Kamis, 30 Mei 2013

Asesmen



A.     PENGERTIAN ASESMEN SERTA FORMATNYA
Pengantar
Asesmen merupakan cara salah satu kegiatan  pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor  sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/berlangsung. Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka  asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang
terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu sendiri.
Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika  dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi konselee. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, namun juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konselee.
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konselee dalam memecahkan masalah.  Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi  beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan indikator-indikator yang  ditetapkan dan dikembangkan  oleh  guru BK/konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konselee merupakan pengembangan  dari area kompetensi dasar pada diri konselee yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri,performance test, tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus  dilakukan dengan berhati-hati sesuai dengan kaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah karena asesmen yang tidak memadai  akan menyebabkan tritmen gagal; atau bahkan dapat memicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri konselee.  Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada konselee, tidak berarti konselor harus menilai (to assess) semua latar belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu.
Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:
1.     Menstimulasi konselee maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan
2.     Menjelaskan masalah yang senyatanya
3.     Memberi alternatif solusi untuk masalah
4.     Menyediakan metode untuk dengan memperbandingkan alternatif shg dapat diambil keputusan
5.      Memungkinkan evaluasi efektivitas konseling
Selain itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara apa ini (what is) dengan apa yang  diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil  konseling.
Asesmen memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model pendekatan konseling. Jika kedua komponen tersebut didesain dengan pendekatan “client centered” atau “bottom up”,  asesmen akan mengarah pada inovasi. Hal ini memiliki makna bahwa  asesmen tidak hanya berorientasi pada hasil/produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses konseling, yaitu mulai dari membuka konseling sampai dengan mengakhiri konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling dengan  hasil konseling. Dengan demikian asesmen akan benar-benar bisa memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan diambil oleh konselee dapat benar-benar sesuai dengan kemampuan diri  konselee itu sendiri.
B. Tujuan Asesmen
Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1.                  Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konselee mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah
2.                  Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konselee maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konselee secara mendetil
3.                  Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konselee
4.                  Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif  tersebut
5.                  Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konselee atau belum
           
C.      Langkah-langkah Asesmen
Apapun bentuk dan jenis asesmen yang dilakukan, hal ini tetap menuntut suatu perencanaan, termasuk pada saat melakukan analisis. Dengan demikian maka akan diperoleh alat ukur atau instrumen yang benar-benar dapat diandalkan (valid) dan  dapat dipercaya (reliabel) dalam mengukur apa yang seharusnya diukur. Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan asesmen:
1.   Perencanaan
Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen  adalah:
a. Memilih fokus asesmen pada aspek tertentu dari diri konselee
Salah satu penentu keberhasilan konseling adalah kemauan dan kemampuan konselee itu sendiri. Dalam konseling, keputusan akhir untuk pemecahan masalah yang dihadapi ada pada diri konselee. Konselor/guru BK bukan pemberi nasihat, bukan pengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan  konselee dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Karena itu, untuk keberhasilan konseling, konselee dapat bekerjasama dengan guru BK/konselor, dan dengan bantuan guru BK maka konselee diharapkan mampu memunculkan ide-ide pemecahan masalah, dan konselee memiliki keberanian serta kemampuan untuk mengambil keputusan, mampu memahami diri sendiri,  dan mampu menerima dirinya sendiri. Berdasarkan  hal tersebut di atas, maka konselor menentukan akan melakukan asesmen  dengan memfokuskan  pada salah satu aspek  dalam diri konselee saja. 
 b. Memilih instrumen   yang akan digunakan.
Setelah ditentukan fokus area asesmen, Anda dapat merencanakan instrumen yang akan digunakan dalam asesmen. Banyak instrumen yang dapat digunakan dalam asesmen seperti tes psikologis, observasi, inventori, dan sebagainya. Tetapi untuk menentukan instrumen sangat  tergantung pada aspek apa yang akan diasesmen.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih instrumen dalam asesmen diantaranya yaitu: (i) kemampuan guru BK sendiri, (ii) kewenangan guru BK (baik dalam mengadministrasikan maupun dalam interpretasi hasilnya), (iii) ketersediaan instrumen, (iv) waktu yang tersedia, dan (v) dana yang tersedia.
c.  Penetapan waktu
Perencanaan waktu yang dimaksud adalah kapan asesmen akan dilakukan. Penetapan waktu ini sangat erat berhubungan engan persiapan pelaksanaan asesmen. Persiapan akan banyak menentukan keberhasilan suatu asesmen, misalnya mempersiapkan  instrumen, tempat, dan peralatan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan asesmen.
d. Validitas dan reliabilitas
Apabila instrumen yang kita gunakan adalah buatan sendiri atau dikembangkan sendiri, maka instrumen itu  perlu diuji validitas dan reliabilitasnya.


 2.  Pelaksanaan             
Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan asesmen adalah pelaksanaannya harus sesuai dengan manual masing-masing instrumen. Manual suatu instrumen biasanya memuat:
(i) cara mengerjakan, (ii) waktu yang digunakan untuk mengerjakan asesmen, (iii) kunci  jawaban, (iv) cara analisis, dan (v) interpretasi.
 3. Analisis data
Langkah selanjutnya adalah analisis data, yaitu melakukan analisis terhadap data yang diperoleh  melalui instrumen yang digunakan untuk mengambil data. Analisis dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing-masing  instrumen.   Metode analisis data dalam asesmen konseling sangat tergantung data yang diperoleh. Misal data yang diperoleh berbentuk kualitatif atau data kuantitatif.
Apabila data bersifat kualitatif, maka kita melakukan analisis data kualitatif. Metode analisis data kualitatif misalnya deskriptif naratif. Wilcox dalam Farida (2000) misalnya menggunakan pendekatan  ”key incident” dalam analisis deskripsi kualitatif tentang kegiatan pendidikan.

Pendekatan key incident memungkinkan bagi kita untuk memasukkan sejumlah besar kesimpulan dari bermacam-macam data yang berasal dari berbagai sumber, misalnya dari catatan lapangan, dokumen informasi demografi, atau wawancara. Apabila banyak data kualitatif yang dianalisis sementara asesmen masih berlangsung maka beberapa analisis dapat ditunda pelaksanaannya sampai evaluator selesai melakukan asesmen. Saat melakukan analisis data kualitatif, perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: (i) yakinkan semua data telah tersedia, (ii) buatlah salinan data untuk berjaga-jaga kalau ada yang hilang, (iii) aturlah data dalam judul dan masukkan dalam file, (iv) gunakan sistem kartu-kartu dalam map, (v) periksa kebenaran hasil asesmen.
Apabila data bersifat kuantitatif maka analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik. Dalam bimbingan konseling, statistik biasa digunakan untuk analisis data hasil tes psikologis, misalnya tes inteligensi, tes bakat, dan sebagainya. Dewasa ini, program statistik dapat dengan mudah dilakukan dengan bantuan komputer, seperti program excel, LISREL, SPSS, dan sebagainya.


 4.  Interpretasi data
Interpretasi diartikan sebagai  upaya mengatur dan menilai fakta, menafsirkan pandangan, dan merumuskan kesimpulan yang mendukung. Penafsiran harus dirumuskan dengan hati-hati, jujur, dan terbuka. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ada dalam interpretasi, yaitu:
(i) Komponen untuk menafsirkan / interpretasi hasil analisis data
Interpretasi berarti menilai objek asesmen  dan menentukan dampak
asesmen tersebut. Pandangan evaluator juga mempengaruhi penafsiran/interpretasi 
data. Untuk asesmen yang akan digunakan  untuk membantu  fungsi pendidikan, maka hasil asesmen harus diinterpretasikan sebagai sarana untuk mengetahui kebaikan konselee, dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam tindakan berikutnya bagi orang-orang lain yang berkepentingan/berwenang (Cronbach dalam Farida, 2000).
(ii) Petunjuk untuk menafsirkan analisis data
Worthen dkk. (dalam Farida, 2000) menyatakan bahwa para evaluator telah mengembangkan metode yang sistematik untuk melakukan interpretasi.  Diantara metode-metode tersebut yang sering dipakai akhir-akhir ini adalah: (i) menentukan apakah tujuan telah dicapai, (ii) menentukna apakah hukum, norma-norma, demokrasi aturan, dan prinsip-prinsip etik tidak dilupakan, (iii) menentukan apakah analisis kebutuhan telah dikurangi, (iv) menentukan nilai pencapaian, (v) bertanya kepada kelompok  penilai, melihat kembali data, menilai keberhasilan dan kegagalan, menilai kelebihan dan kelemahan penafsiran, (vi) membandingkan variabel-variabel penting dengan hasil yang diharapkan, (vii) membandingkan analisis yang dilaporkan oleh program yang usahanya sama, dan (viii) menafsirkan hasil analisis  dengan prosedur  yang menghasilkannya. Namun demikian, menginterpretasikan data bukan hanya  pekerjaan evaluator saja, akan tetapi evaluator hanya memberikan pandangan saja dari sekian banyak pandangan.
 5. Tindak lanjut
Tindak lanjut adalah menindak lanjuti hasil  asesmen atau penggunaan hasil asesmen dalam konseling. Beberapa kegiatan tindak lanjut  diantaranya adalah apakah konselee perlu melakukan konseling yang memfokuskan pada aspek yang berbeda lainnya, apakah konselee perlu mendapatkan tritmen tertentu, atau bahkan bisa jadi konselee perlu mendapatkan rujukan (refferal)
kepada pihak ketiga. Rujukan diperlukan jika guru pembimbing/konselor tidak mempunyai kewenangan atau tidak mempunyai kemampuan untuk menangani masalah yang dihadapi konselee. Misalnya jika klin sudah mengalami gangguan psikotik, maka konselee perlu dirujuk ke psikiater; jika konselee mengalami gangguan dislesia maka perlu dirujuk ke terapis khusus yang menangani gangguan tersebut.
            Untuk konseling yang berbasis individu, maka langkah-langkah khusus peerlu dilakukan, yaitu dengan cara:
1.       Menentukan fokus yang akan dinilai (misal cara konselee dalam merespon, ide-ide pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan sebagainya)
2.       Menentukan teknik untuk penilaian (misal dengan observasi, konferensi kasus, atau  wawancara)
3.       Menggunakan teknik penilaian yang telah ditentukan
4.       Melakukan analisis data yang diperoleh dan membicarakan hasilnya dengan konselee
5.       Menanggapi data dengan cermat, dan
6.       Melaporkan data yang telah diolah (laporan hasil konseling)

ECara Pengumpulan Informasi Asesmen
Pengumpulan informasi untuk asesmen berbasis individu dapat dilakukan secara resmi/formal, dan tidak resmi/informal. Secara resmi misalnya, individu dipanggil untuk melakukan wawancara konseling dengan konselor, atau guru BK meminta individu melakukan tes psikologis dan/atau tes perbuatan (performance test). Secara tidak resmi, misalnya konselee mengerjakan kegiatan-kegiatan yang sengaja dibuat untuk melaksanakan hasil keputusan dalam konseling. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penilaian  dengan menggunakan metode pengamatan/observasi, pencatatan, dan pengumpulan hasil kegiatan konselee.
Ada dua macam metode asesmen yang dapat digunakan guru pembimbing  atau konselor, yaitu:
1.                  Tidak langsung/indirect seperti wawancara, kuesioner, retrospektif rating oleh orang lain, baik dengan  representasi kata verbal maupun tulisan
2.                  Langsung/direct seperti observasi diri, analog role play, analog
perilaku bebas (setting mirip tapi bukan sesungguhnya), role play alamiah, perilaku bebas alamiah (setting sesungguhnya)
Berikut ini penulis akan menjelaskan secara ringkas beberapa metode asesmen yang mudah dan sering digunakan  oleh guru pembimbing/konselor.


1. Wawancara
Wawancara merupakan  salah satu metode asesmen yang digunakan untuk
mendapatkan data tentang individu dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan (face to face relation). Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya jawab, dandalam hubungan tatap muka. Ini merupakan keunggulan teknik wawancara, karena gerak dan mimik yang dilakukan oleh responden merupakan pola media yang dapat melengkapi kata-kata verbal mereka.
Wawancara dilakukan untuk dapat  menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat menangkap perasaan, pengalaman, emosi, dan motif, yang dimiliki oleh responden. Teknik ini sangat fleksibel dalam mengajukan pertanyaan yang lebih rinci, dan memungkinkan siswa untuk mengatakan dengan jelas tentang kegiatan, minat, cita-cita, harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, dan hal-hal lain mengenai dirinya.
Hal-hal yang menjadi  target wawancara diantaranya adalah:
1.       Mengumpulkan informasi dari klien yang menggambarkan masalah serta kekuatan mereka yang berkaitan dengan perasaan, pikiran, dan perilaku mereka (baik yang terlihat maupun tidak); terutama yang berhubungan dengan fungsi interpersonal klien.
2.      Konselor tidak boleh melakukan penolakan, prejudice (berprasangka), atau melebih-lebihkan hasil wawancara tersebut

Wawancara sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1.  Permulaan atau pendahuluan wawancara, yang ditujukan untuk mendapatkan hubungan yang baik (dalam mengadakan kontak yang pertama), dan biasanya diisi dengan penyampaian maksud serta tujuan dari wawancara itu. Jika telah terjadi hubungan yang baik dan timbul perasaan  saling percaya maka hal ini akan besar artinya dalam proses wawancara selanjutnya.
2.   Inti wawancara, dimana maksud serta tujuan wawancara harus dapat dicapai. Misalnya apabila maksud dari wawancara adalah untuk mengumpulkan data latar belakang sosial, maka pada bagian ini maksud itu harus bisa dicapai.
3.   Akhir wawancara, yang merupakan bagian untuk mengakhiri jalannya wawancara, yangdapat ditutup dengan melakukan penyimpulan tentang apa yang telah dibicarakan, dapat juga dengan menentukan waktu kapan akan dilanjutkan lagi bila masih dibutuhkan
untuk mengadakan wawancara lagi.

Berikut ini adalah contoh Pedoman Wawancara:
1. Wawancara ke : ………………………………………………………………….
2. Waktu wawancara : …………………………………………………………….
3. Tempat wawancara : ……………………………………………………………
4. Masalah : …………………………………………………………………………...
5. Nama siswa : ……………………………………………………………………...
6. Proses wawancara : ……………………………………………………………..
No
Pertanyaan
Uraian
/Jawaban




 7. Kesimpulan/ catatan : …………………………………………………………………….

2. Angket
Angket atau kuesioner adalah serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diajukan kepada responden untuk memperoleh jawaban secara tertulis  pula. Pertanyaan/pernyataan dalam angket akan bergantung
pada maksud serta tujuan yang ingin dicapai dari pemberian angket tersebut. Pada umumnya, angket mengandung dua bagian pokok, yaitu:
a. Bagian yang mengandung data identitas.
b. Bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan fakta atau opini.
Berikut ini adalah contoh angket
I. Identitas Orangtua
1. Nama : ……………………………………………..
2. Alamat : ……………………………………………..
3. Pekerjaan : …………………………………………….
4. Tempat/ tgl lahir : …………………………………………….
5. Pendidikan terakhir : …………………………………………….
6. Agama : …………………………………………….
II. Identitas Siswa
1. Nama : ……………………………………………..
2. Kelas/ program : ……………………………………………..
3. No. Induk/ absen : ……………………………………………..
4. Jenis kelamin : …………………………………………….
5. Tempat/ tgl lahir
III. Petunjuk :
       Berikan tanda cek (v) pada kolom yang sesuai dengan keadaan Anda yang
   sebenarnya.
No
Pertanyaa
Ya
Tidak
1
Menurut Anda, apakah anak Anda setiap hari belajar di rumah/tempat les/rumah teman?


2
Apakah anak Anda mempunyai jam belajar yang pasti?


3
Apakah anak Anda mengikuti kegiatan les (mata
pelajaran)?


4
Apakah anak Anda belajar meski tidak ada tugas/ ulangan saja?



 3. Observasi

Observasi (pengamatan) adalah metode pengumpulan data dengan mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama pengamatan, baik  secara langsung atau tidak langsung, sehingga diperoleh data tingkah laku yang tampak (behavior observable), apa yang dikatakan, dan apa yang diperbuatnya. Teknik ini dapat dilakukan secara terencana atau pun sewaktu-waktu bilamana terjadi sesuatu yang menarik.
Menurut cara dan tujuannya, observasi dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.    Observasi partisipatif, yaitu observasi yang dilakukan oleh observer (pengamat) yangturut mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diobservasi(observee).
b.   Observasi sistematis, yaitu observasi yang direncanakan terlebih dahulu sehingga telah diketahui aspek yang akan diobservasi sesuai dengan tujuan, waktu, dan alat yang dipakai.
c.   Observasi eksperimental, yaitu observasi yang dilakukan untuk mengetahui perubahan atau gejala-gejala sebagai akibat dari sebuah situasi/perlakuan  yang sengaja diadakan.
Berdasarkan hubungan observer (pengamat) dengan kelompok yang diamatinya (observee),observasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut ini :
a.  Partisipan penuh, yaitu pengamat menyamakan diri dengan orang yang diobservasisehingga dapat merasakan dan menghayati apa yang dialami oleh observee.
b. Observer sebagai pengamat, yaitu membatasi diri dalam berpartisipasi sebagai pengamat, dan observee menyadari bahwa dirinya adalah obyek pengamatan.
c. Observer sebagai partisipan  yang berpartisipasi sebatas  yang dibutuhkan dalam  pengamatannya.
d. Pengamat sempurna (complete observer), yaitu observer hanya mejadi pengamat tanpa partisipasi dengan yang diamati dan mengambil mempunyai jarak dengan observee.
Contoh panduan observasi  sistematis perilaku konselee dalam kelas.
No
Komponen
Nilai
1
Berbicara dengan teman saat belajar di kelas
0
1
2
3
4
2
Mengganggu teman
0
1
2
3
4
3
Membuat suara-suara keras di kelas
0
1
2
3
4
4
Sering keluar masuk  ruang kelas tanpa ijin
0
1
2
3
4
5
Malas mencatat
0
1
2
3
4
6
Sering bertengkar dengan teman
0
1
2
3
4

4. Sosiometri

Sosiometri adalah salah satu metode dalam psikologi sosial yang dikembangkan seorang psikiater  Jacob Levi Moreno. Sosiometri berasal dari bahasa latin socius (social) danmetrum (pengukuran). Jadi dapat disimpulkan secara sederhana bahwa sosiometri berarti pengukuran kelompok sosial, atau mempelajari hubungan sosial individu di dalam kelompok  atau untuk mengukur tingkat keterkaitan di antara manusia. Untuk mendapatkan materi sosiometri, digunakan angket sosiometri atau kuesioner  sosiometris. Prosesnya dilakukan dengan jalan meminta kepada setiap  individu dalam kelompok untuk memilih anggota kelompok lainnya (tiga orang) yang disenangi atau tidak disenangi dalam bekerja sama beserta alasannya, kemudian nama-nama yang dipilih disusun menurut nomor urut yang paling disenangi atau paling tidak disenangi. Dari sinilah dapat diketahui bentuk-bentuk hubungan dalam kelompok, serta kepopuleran dan keterasingan individu. Untuk menentukan hubungan sosial ada dua macam bentuk, yaitu pemilihan  sebagai arah yang positif, dan penolakan sebagai arah yang negatif. Dengan cara ini dapat diketahui siapa saja yang populer, dan siapa saja yang terasing atau ditolak oleh teman-temannya. Hal ini amat penting, lebih-lebih bagi seorang guru dalam menyelidiki atau memahami
keadaan masing-masing siswa di dalam kelas. Siswa yang terasingkan atau yang ditolak oleh teman-temannya merupakan problem child yang mungkin sekali akan mengganggu kemajuan dalam pelajarannya. Untuk membantu siswa tersebut maka guru harus mengetahui alasan teman-temannya menolak dia, yang diperoleh dari alasan yang diajukan oleh setiap siswa dalam angket sosiometri itu. Berdasarkan alasan inilah kemudian guru dapat mengambil langkah lebih lanjut dalam memberikan bimbingan kepada siswa tersebut.
Banyak manfaat didapat dari sosiometri ini,  antara lain adalah untuk:
a.    mengetahui tingkat hubungan sosial siswa di antara teman sekelasnya
b.    menilai perilaku siswa dalam kelompok
c.    mengubah perilaku siswa lain melalui teman yang paling disukainya
d.   mengelola kelas dan membentuk kelompok belajar
e.    mengurangi konflik dan meningkatkan komunikasi antarsiswa
f.     menilai kemajuan siswa yang tengah diterapi masalah komunikasi sosial
Adapun langkah-langkah dalam sosiometri dapat dijabarkan sebagaimana berikut ini:
a.     Sebelumnya, petugas yang akan memandu asesmen ini berusaha menciptakan hubungan baik dengan kelompok
b.     Petunjuk diberikan dengan jelas, dengan menerangkan maksud pelaksanaan sosiometri.
c. Diselenggarakan dalam kondisi antarindividu harus saling mengenal, namun siswa tidak saling mengetahui jawabannya.
d.     Menetapkan kriteria atau alasan memilih orang lain, kemudian meminta siswa memilih seorang teman yang paling disukainya
e.     Menyajikan hasil pilihan ke dalam tabel
f.      Menyajikan tabel ke dalam grafik berpola
g.      menganalisis hasil sosiometri yaitu:
Contoh angket sosiometri 1:
Nama :…………………………………………………………………………………
L / P
Kelas :……………………………………………………………………………………
Tanggal:…………,,……………………………………………………………………
Kriterium : untuk kegiatan belajar kelompok
Pilihan I :………………………………………………………………………………..
Alasan :…………………………………………………………………………………..
Pilihan II :………………………………………………………………………………..
Alasan……………………………………………………………………………………..


Contoh angket sosiometri 2:
Nama :………………………………………… L / P :………………………………….
Umur :………………………………………… Alamat :………………………………….
Isilah titik-titik di bawah ini dengan sejujurnya:
1. Pilihlah 3 (tiga) orang teman Anda dalam kelas ini yang Anda senangi untuk
    diajak belajar bersama:
    a……………………………………………..,alasannya……………………………………..
    b. …………………………………………..,alasannya ……………………………………..
    c……………………………………………, alasannya……………………………………..
2. Pilihlah  seorang teman Anda yang paling Anda senangi untuk menjadi ketua    kelompok belajar:…………………………, alasannya…………………………..
3. Pilihlah teman Anda yang paling Anda senangi untuk menjadi ketua kelas:
    …………………………………….., alasannya………………………………………..
4. Pilihlah 3 (tiga) orang teman Anda dalam kelas ini yang Anda senangi untuk    diajak bermain-main bersama (misalnya: kesenian, olahraga, dan lain-lain):
    a. …………………………………………., alasannya ……………………………………..
    b. …………………………………………, alasannya ……………………………………..
    c. …………………………………………., alasannya ……………………………………..
5. Pilihlah 3 (tiga) orang teman Anda dalam kelas ini yang kurang Anda
    senangi:
    a. ………………………………………….., alasannya ……………………………………..
    b.  ………………………………………., alasannya ……………………………………..
    c. …………………………………………., alasannya……………………………………..
6. Pilihlah seorang teman Anda dalam kelas ini yang  paling tidak Anda senangi:
…………………………………….., alasannya……………………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar