Kamis, 30 Mei 2013

Psikoanalis Klasik



PSIKOANALISIS KLASIK

            Teori psikoanalisis adalah salah satu sumbangan Freud yang paling komprehensif di antara teori kepribadian  lainnya. Peran penting dari ketidaksadaran berserta insting-insting seks dan agresi yang ada di dalamnya dalam pengaturan tingkah laku menjadi karyanya. Sistematika yang dipakai Freud dalam mendiskripsikan kepribadian menjadi tiga pokok bahasan, yakni; struktur kepribadian, dinamika keprbadian, dan perkembangan kepribadian.

A.     Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), tak-sadar (unconscious). Teori ini dipakai sampai tahun 1920, namun pada tahun 1923 Freud memperkenalkan tiga unsur lain yakni id, ego dan superego. Enam pendukung kepribadian itu adalah sebagai berikut:
1.      Sadar (conscious)
Menurut Freud, dalam tingkat kesadaran hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kedalamnya. Isi daerah itu merupakan hasil penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal yang hanya bertahan dalam waktu singkat dan akan bergeser ke arah prasadar dan tidak sadar saat orang memindahkan perhatiannya.
2.      Prasadar (preconscious)
Tingkat kesadaran yang satu ini dapat disebut juga ingatan siap (available memory) yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan anatar sadar dan tidak sadar. Isi prasadar merupakan pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati akan tertekan dan berpindah ke preconscious. Ini bisa muncul dalam bentuk simbolik seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

3.      Tak-sadar (unconscious)
Ini adalah bagian paling dalamdari struktur kesadaran yang berisi insting, implus dan drives yang dibawa dari lahir dan pengalaman-pengalaman traumatik. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecendrungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.
4.      Id
Id adalah sistem kepribadian asli yang dibawa sejak lahir. Dari sini baru akan muncul ego dan super ego. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.
Bagi id kenikmatan adala keadaan yang relatif inaktif atau tingkat enerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan.
Pleasure Principle dibagi dengan dua cara, pertama, Tindak Refleks (reflex action) yang merupakan reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengerjapkan mata – dipakai sebagai penanganan pemuas rangsang sederhana dan biasanya mudah dilakukan. Kedua, Proses Primer (primary process) adalah reaksi membayangkan sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan. Proses pembentukan gambaran obyek yang dapat mengurangi tegangan disebut pemenuhan hasrat (wish fulfillmet) yang berupa mimpi, lamunan dan halusinasi psikotik.
Alasan mengapa Id memunculkan ego, karena Id hanya dapat membayangkan sesuatu, dan tidak mempu menilai yang benar dan salah khususnya masalah moral.
5.      Ego
Ego berkembang dari Id agar orang dapat menangani realita sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita yang dikerjakan melalui proses sekunder yakni berfikir realistik menyusun rencana dan mengujiapakah rencana itu menghasikan obyek yang dimaksud. Proses pengujian itu desebut uji realita; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah difikirkan secara realistik.
Ego adalah eksekutif dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dupuaskan berdasarkan dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.
6.      Superego
Ini adalah kekuatan moral dan etnik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prisnsip idealistik. Superego beroperasi di tiga daerah kesadaran namun tidak memiliki kontak dengan dunia luar. Prinsip idealistik mempunyai dua subprinsip yakni conscience dan egoideal.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego baik yang sudah dilakukan maupun yang maish dalam pikiran. Ada tiga fungsi superego; mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik, merintangi implus id, terutama implus seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan mengejar kesempurnaan.

B.     Dinamika Kepribadian
Insting adalah perwujudan dari kebutuhan tubuh yang menuntut pemuasan. Energi insting dapat dijelaskan dari :
1.      Sumber Insting
Insting adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Sepanjang hayat sumber insting bersifat konstan, tidak berubah kecuali akiban kemasakan karena kemasakan akan menimbulkan kebutuhan jasmani yang baru yang akan memunculkan insting yang baru pula.
2.      Tujuan Insting
Tujuan insting bersifat konstan yaitu insting sebagai pemucu tegangan dan Id, Ego, Superego bekerja untuk mereduksi tegangan itu. Tujuan insting juga bersifat regressive (kembali keasal) yaitu berusaha kembali kekeadaan sebelum munculnya insting. Tujuan insting juga bersifat konservatif yaitu mempertahankan keseimbangan organisme dengan menghilangkan stimulasi-stimulasi yang mengganggu.
3.      Obyek Insting
Obyeknya adalah segala sesuatu yang menjebatani antara kebutuhan yang timbul dengan pemenuhannya. Obyek insting berubah-rubah sepanjang waktu. Displacement adalah pamindahan obyek asli ke obyek lainnya sedangkan yang dimaksud derivative instict adalah obyek yang dipindahkan dan menjadi permanen. Kedua hal tersebut yang membuat keanekaragaman tingkah laku manusia.
4.      Daya Dorong Inting
Kekuatan / intensitas keinginan berbeda-beda setiap waktu. Kebutuhan yang penting akan mendapat energi yang lebih besar dibandingkan kebutuhan yang kurang penting.
Jenis insting dibagi atas dua jenis, pertama Insting Hidup dan Insting Seks dan kedua Insting Mati. Dibawah ini penjelasan jenis-jenis isting tersebut.
1.      Insting Hidup dan Insting Seks
Insting hidup disebut juga Eros adalah dorongan yang menjamin survival dan reproduksi, seperti, lapar, haus, dan seks. Energi yang dipakai untuk insting hidup disebut libido. Menurut Freud inting hidup yang terpenting adalah insting seks karena berhubungan dengan kepuasan yang diperoleh bagian tubuh lainnya yang dinamakan daerah erogen (erogenous zone). Daerah ini peka dan perangsangan didaerah itu akan menimbulkan kepuasan yang menghilangkan ketegangan.
Tujuan utama dari insting seks adalah mereduksi tegangan seks tidak dapat durubah namun cara bagaimana tujuan itu dapat dicapai dapat berubah dan bervariasi. Bagi Freud semua aktivitas yang memberi kenikmatan dapat dilacak hubungannya dengan insting seksual.
2.      Insting Mati
Insting mati atau insting destruktif (destructive instincts, disebut juga thanatos) bekerja secara sembunyi-sembunyi dibanding insting hidup. Menurut Freud , tujuan semua kehidupan adalah kematian. Freud berpendapat bahwa tiap orang mempunyai keinginan yang tidak disadarinya untuk mati. Suatu derivatif insting-insting mati yang terpenting adalah dorongan agresif (aggressive drive). Insting mati mendorong orang untuk merusak diri sendiri, dan dorongan agresif merupakan bentuk penyaluran agar orang tidak membunuh dirinya sendiri (suicide).

Distribusi dan Pemakaian Enerji
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara enerji psikis didistribusi dan dipakai oleh id-ego-superego. Jumlah enerji psikis terbatas, dan ketiga unsur struktur itu bersaing untuk mendapatkannya. Kalau salah satu unsur menjadi lebih kuat maka dua yang lain menjadi lemah, kecuali ada enerji baru yang ditambahkan atau dipindahkan ke sistem itu.
Pada mulanya, seluruh enerji psikis menjadi milik id dan dipakai untuk memenuhi hasrat (wishfulfillment) melalui aksi refleks, proses primer. Enerji itu diinvestasikan (cathects) kepada suatu objek untuk memuaskan hasrat. Proses pemakaian enerji oleh id disebut pemilihan objek (object cathexes id) atau instinctual object cathexes.
Ego tidak mempunyai enerji sendiri, sehingga harus menarik enerji dari id. Proses pengalihan enerji ini disebut identifikasi yakni proses ego mencocokkan gambaran mental dari id dengan kenyataan aktual. Id berprinsip bahwa obyek nyata harus sama dengan gambaran atau fantasi mengenai obyek yang diinginkan, sedang ego berprinsip gambaran obyek bisa berbeda dengan obyek nyata, gambaran itu harus dikonfrontasi dengan kenyataan dan peluang untuk memperolehnya. Konsep identitas ini sangat penting karena semua kemajuan kognitif adalah ujud dari gambaran mental mengenai dunia yang semakin mendekati kenyataan. Sebagian enerji juga dipakai untuk mengekang id agar tidak bertindak impulsif dan irasional. Daya kekang ini disebut anticathexes yang melawan dorongan cathexes id. Antikateksis juga dipakai untuk melawan superego yang terlalu menindas kebebasan rasional. Ego melindungi diri dengan mekanisme (defense mechanism) di kala id dan superego menjadi ancaman. Ego sebagai eksekutif kepribadian memakai enerji untuk mengatur aktifitas dari tiga struktur itu dalam kesatuan.
Superego mendapat enerji dari id melalui proses identifikasi. Orang tua menyalurkan nilai-nilai sosial kepada anaknya melalui pemberian hadiah dan hukuman. Aturan moral mewakili usaha masyarakat untuk mengontrol dan mencegah pengungkapan dorongan primitif, terutama dorongan seksual dan agresi.

Kecemasan (Anxiety)
Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Ada tiga jenis kecemasan:
1.        Kecemasan realistik (realistic anxiety) adalah takut kepada bahaya yang nyata ada di dunia luar. Kecemasan ini menjadi asal muasal timbulnya kecemasan neurotik dan kecemasan moral.
2.        Kecemasan neurotik (neurotic anxiety) adalah ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua atau unsur penguasa lainnya kalau seseorang memuaskan insting dengan caranya sendiri, yang diyakininya bakal menuai hukuman.
3.        Kecemasan moral (moral anxiety), kecemasan moral timbul ketika orang melanggar standar nilai orang tua

Perbedaan kecemasan moral dan kecemasan neurotik adalah perbedaan prinsip yakni : tingkat kontrol ego. Pada kecemasan moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalahnya berkat enerji superego, sedangkan pada kecemasan neurotik orang dalam keadaan distres-terkadang panik-sehingga mereka tidak dapat berpikir jelas dan enerji id menghambat penderita kecemasan neurotik membedakan antara khayalan dengan realita.


Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism)
Bagi freud, mekanisme pertahanan adalah strategi yang dipakai individu untuk bertahan melawan ekspresi impuls id serta menentang tekanan super ego. Menurutnya, ego mereaksi bahaya munculnya impuls id memakai dua cara:
1.        Membentengi impuls sehingga tidak dapat muncul menjadi tingkahlaku sadar.
2.        Membelokkan impuls itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau diubah.
Freud hanya mendeskripsi tujuh mekanisme pertahanan; identification, displacement, repression, fictation, regression, reaction formation, projection. Pengikut-pengikutnya, Anna Freud menambah lebih dari 10 dinamika mekanisme pertahanan. Semua mekanisme pertahanan mempunyai tiga persamaan ciri:
1.        Mekanisme pertahanan itu beroperasi pada tingkat tak sadar.
2.        Mekanisme pertahanan selalu menolak, memalsu, atau memutar-balikkan kenyataan.
3.        Mekanisme pertahanan itu mengubah persepsi nyata seseorang, sehingga kecemasan menjadi kurang mengancam.

Menurut Freud, jarang ada orang yang memakai hanya satu mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari kecemasan. Umumnya orang memakai beberapa mekanisme pertahanan, baik secara bersama-sama atau secara bergantian sesuai dengan bentuk ancamannya. Mekanisme pertahanan yang paling banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
Identifikasi (Identification)
Identifikasi sebagai sarana ego dan superego memperoleh enerji psikis dari id. Konsep identifikasi sebagai mekanisme pertahanan sejalan dengan konsep pemindahan enerji psikis itu. Ketika ego mengidentifikasi khayalan mental dengan kenyataan hasil persepsi, itu berarti suatu hal internal dicocokkan dengan eksternal. Mekanisme pertahanan identifikasi umumnya dipakai untuk tiga macam tujuan:
1.        Identifikasi merupakan cara orang dapat memperoleh kembali sesuatu(obyek) yang telah hilang. Anak yang merasa ditolak orangtuanya cenderung membentuk identifikasi yang kuat dengan orangtuanya itu dengan harapan dapat memperoleh penerimaan orangtuanya.
2.        Identifikasi dipakai untuk mengatasi rasa takut. Anak mengidentifikasi larangan-larangan orangtuanya agar terhindar dari hukuman.
3.        Melalui identifikasi orang memperoleh informasi baru dengan mencocokkan khayalan mental dengan kenyataan. Proses identifikasi sangat penting dalam dinamika dan perkembangan kepribadian.

Pemindahan/Reaksi Kompromi (Displacement/Reactions Compromise)
Manakala obyek kateksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapat dicapai karena ada rintangan dari luar(sosial, alami) atau dari dalam(antikateksis), insting itu direpres kembali ke ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru, yang berarti pemindahan enerji dari obyek satu ke obyek yang lain, sampai ditemukan obyek yang dapat mereduksi tegangan.
Sumber dan tujuan dari insting selalu tetap, obyeknya yang berubah-ubah melalui displacement. Obyek pengganti jarang dapat memberi kepuasan atau mereduksi tegangan seperti obyek aslinya, dan semakin obyek pengganti itu berbeda dengan yang asli, maka semakin sedikit tegangan dapat direduksi. Proses mengganti obyek kateksis untuk meredakan ketegangan di atas, adalah kompromi antara tuntutan insting dengan realitas ego disebut reaksi kompromi(reaction compromise). Ada tiga macam reaksi kompromi, yakni sublimasi, substitusi, dan kompensasi(sublimation, subtitution, compensation). 
1.        Sublimasi adalah kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang lebih tinggi, diterima masyarakat sebagai kultural kreatif
2.        Substitusi adalah pemindahan atau kompromi di mana kepuasan yang diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya.
3.        Kompensasi adalah kompromi dengan mengganti insting yang harus dipuaskan. Gagal memuaskan insting yang satu diganti dengan memberi kepuasan insting yang lain.
Kemampuan untuk membentuk obyek pengganti ini adalah mekanisme yang paling kuat dalam perkembangan kepribadian. Semua perhatian, minat, kegemaran, nilai-nilai, sikap, dan ciri kepribadian orang dewasa menjadi ada berkat pemindahan obyek ini.

Represi (Repression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes untuk menekan segala sesuatu(ide, insting, ingatan, fikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran. 
Dinamika campuran antara represi dan pemindahan, sebagai berikut:
1.      Represi + displacement: Gadis yang takut mengekspresikan kemarahannya kepada orang tuanya menjadi memberontak dan ngamuk kepada gurunya.
2.      Represi + symptom histerik: Seorang pilot menjadi buta walaupun secara fisiologik matanya sehat, sesudah pesawat yang dikemudikannya jatuh dan copilot teman baiknya meninggal.
3.      Represi + psychophysiological disorder: Wanita yang mengalami migraine setiap menekan rasa marahnya, memilih menuruti orang lain alih-alih mengikuti kemauannya sendiri agar tidak perlu timbul rasa marah yang harus ditekan.
4.      Represi + fobia: Pria yang takut dengan barang yang terbuat dari karet. Waktu masa kecil dia pernah dihukum berat ayahnya karena meletuskan balon karet hadiah adiknya. Karet ini menjadi pemicu ingatan event hukuman itu dan harapan masa-kecil agar adiknya mati.
5.      Represi + Nomadisme:  Orang yang selalu pindah tempat atau berubah-ubah interesnya, sebagai usaha melarikan diri dari susasana frustasi.
Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression)
Fiksasi adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat.
Perkembangan kepribadian yang normal berarti terus bergerak maju atau progresif. Munculnya dorongan yang menimbulkan kecemasan akan direspon dengan represi. Orang yang puas berada di tahap perkembangan tertentu, tidak mau progress disebut fiksasi. Progresi yang gagal membuat orang menarik diri atau regresi.

Pembentukan reaksi (Reaction Formation)
Tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan lawan/ kebalikannya dalam kesadaran, misalnya; benci diganti cinta, rasa bermusuhan diganti dengan ekspresi persahabatan. Biasanya reaksi formasi ditandai oleh sifat serba berlebihan, ekstrim dan kompulsif.

Pembalikan (Reversal)
Mengubah status ego aktif menjadi pasif, mengubah keinginan perasaan dan impuls yang menimbulkan kecemasan menjadi ke arah diri sendiri (seperti turning upon around self), atau reaksi formasi dengan obyek yang spesifik (pada rekasi formasi perasaan yang dibalik digeneralisasikan kepada obyek yang luas). Benci kepada ibu yang pilih kasih, dibalik menjadi benci kepada diri sendiri, atau dibalik menjadi perasaan cinta kepada ibu.

Projection (Projeksi)
Projeksi adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotik/ moral menjadi kecemasan realsitik, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terprojeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri. Pengubahan ini mudah dilakukan karena sumber asli kecemasan neurotik/ moral itu adalah ketakutan terhadap hukuman dari luar. Impuls “saya membenci dia” menimbulkan kecemasan neurotik (saya akan dihukum) diprojeksikan menjadi “dia membenci saya” (dia yang akan dihukum). Impuls “saya mencintai dia” menimbulkan kecemasan neurotik (malu kalau ditolak) diprojeksikan menjadi “dia mencintai saya” (dia yang akan malu).

Reaksi Agresi (Aggressive Reactions)
Ego memanfaatkan drive agresif untuk menyerang obyek yang menimbulkan frustasi. Menutupi kelemahan diri denga menunjukkan kekuatan drive agresinya, baik yang ditujukan kepada obyek yang asli, obyek pengganti, maupun ditujukan kepada diri sendiri. Ego membentuk antikateksis, dengan mempertentangkan insting-insting agar insting yang menjadi sumber tegangan frustasi dan anxiety tetap berada di bawah sadar. Ada lima macam reaksi agresi:
1.      Agresi primitif: Siswa yang tidak lulus merusak sekolahnya, atau remaja yang cintanya ditolak menyerang (menghina) penolaknya itu.
2.      Scapegoating: Membanting piring karena marah kepada isteri.
3.      Free-floating-anger: Sasaran marah yang tidak jelas
4.      Suicide: Rasa marah kepada diri sendiri sampai merusak diri/ bunuh diri.
5.      Turning around upon the self: (Gabungan antara agresi + pemindahan) memindah obyek cinta atau agresi kepada diri sendiri, biasanya menjadi perasaan berdosa, atau depresi. 

Intelektualisasi (Intelectualization)
Ego munggunakan logika rasional untuk menerima kateksis obyek sebagai realitas yang cocok dengan impuls asli. Mengatasi frustasi dan anxiety dengan memutarbalikkan realitas untuk mempertahankan harga diri. Ada lima macam intelektualisasi, rasionalisasi, isolasi, undoing, menyaring perhatian, dan penolakan.
1.      Rasionalisasi (rationalization): Menerima, puas dengan object cathexes dengan mengembangkan alas an rasional yang menyimpangkan fakta. Ada dua macam rasionalisasi:
       Sour-grape rationalization: Menganggap kateksis obyek yang tidak dapat dicapai sebagai sesuatu yang jelek: mobil yang canggih itu perawatannya sulit.
       Sweet-lemon rationalization: Menganggap kateksis obyek yang dapat diperoleh sebagai yang terbaik: mobil yang murah lebih praktis dan tidak merongrong.
2.      Isolasi (Isolation): Mempertentangkan antara komponen afektif dengan kognitif, gejala neurosis obsesi kompulsi, di mana dorongan insting (yang tidak dapat diterima ego) bertahan di kesadaran, tetapi tanpa perasaan puas/ senang. Ketika fikiran bekerja mengikuti dorongan insting itu, perasaan dan dorongan aksi menjadi inaktif, menjadi obsesi fikiran, obsesi perasaan, atau obsesi perbuatan (kompulsi).
3.      Undoing: Kecemasan dan dosa akibat kegiatan negative, ditutupi/ dihilangkan dengan perbuatan positif penebus dosa dalam bentuk “tingkahlaku ritual”. Setiap kali impuls yang menimbulkan kecemasan muncul, tingkah laku ritual dilakukan menjadi gejala obsesif kompulsif, untuk menghilangkan kecemasan moral, untuk meredakan sumber konflik, atau untuk menghakimi pelampiasan impuls yang terlanjur terjadi.
4.      Denial: Menolak kenyataan, menolak stimulus/ persepsi realistik yang tidak menyenangkan dengan menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasia tau halusinasi.
Penolakan (Escaping-Avoiding)
Melarikan diri/ menghindar atau menolak stimulus eksternal secara fisik agar emosi yang tidak menyenangkan tidak timbul.

Pengingkaran (Negation)
Impuls-impuls yang direpres diekspresikan dalam bentuk yang negatif, semacam denial terhadap impuls/ drive, impuls-id yang menimbulkan ancaman oleh ego diingkari dengan memikirkan hal itu tidak ada. “Siapa yang marah-saya tidak marah”.

Penahanan Diri (Ego Restriction)
Menolak usaha berprestasi, dengan menganggap situasi yang melibatkan usaha itu tidak ada, karena cemas kalau-kalau hasilnya buruk/ negatif. Mempertahankan self-esteem (yang terancam dari gambaran diri berprestasi negatif), dengan menolak aktivitas yang dapat dibandingkan hasilnya dengan hasil orang lain, memilih kedudukan sebagai pengamat/ penilai. Contoh: semangat menantang catur tapi ketika akan kalah memaksa berhenti.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
            Freud adalah teoritisi pertama yang memusatkan perhatiannya kepada perkembangan kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-anak dalam membentuk karakter seseorang. Freud yakin bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Anehnya, Freud jarang sekali meneliti anak secara langsung. Dia mendasari teorinya dari analisis terhadap pasien dewasa. Teknik psikoanalisis mengeksplorasi jiwa pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanaknya.
Tiga tahapan perkembangan kepribadian menurut Freud: Tahap infantile (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi 3 fase yakni fase oral, fase anal, dan fase falis.

Fase Oral (usia 0;0-1;0)
            Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik, makan/ minum menjadi sumber kenikmatannya. Kepuasan yang belebihan pada fase oral akan membentuk oral incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi senang/ fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain). Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta.

Fase Anal (usia 1;0-2/3;0)
            Pada fase ini dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik, kateksis dan anti kateksis berpusat pada fungsi eliminer (pembuangan kotoran). Mengeluarkan feses menghilangkan perasaan tekanan yang tidak menyenangkan dari akumulasi sisa makanan.

Fase Falis (Phallic) (usia 2/3;0-5/6;0)
            Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Masturbasi menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai pergantian kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiety (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).
Pada anak perempuan, rasa saying kepada ibu segera berubah menjadi kecewa dan benci sesudah mengetahui kelaminnya berbeda dengan anak  laki-laki. Ibunya dianggap bertanggung jawab terhadap kastrasi kelaminnya, sehingga anak perempuan itu mentransfer cintanya kepada ayahnya yang memiliki organ berharga ( yang ingin dimilikinya ). Tetapi perasaan cinta itu bercampur dengan perasaan perasaan iri penis (penis envy ) baik kepada ayah maupun kepada laki-laki secara umum. Tidak seperti pada laki-laki , odipus kompleks pada wanita tidak direpres, cinta kepada ayah tetap menetap walaupun mengalami modifikasi karena hambatan realistic pemuasan seksual itu sendiri. Perbedaan hakekat odipus kompleks  pada laki-laki dan wanita ini (disebut oleh pakar psikoanalisis pengikut Freud : electra complex ) merupakan dasar dari perbedaan psikologik diantara pria dan wanita. Electra complex menjadi reda ketika gadis menyerah tidak lagi mengembangkan harapan seksual kepada ayahnya, dan mengidentifikasi diri kembali kepada ibunya. Proses peredaan ini berjalan lebih lambat dibanding dengan anak laki-laki, dan juga kurang sempurna. Enerji untuk mengembangkan superego adalah enerji yang semula dipakai dalam proses odipus. Penyerahan enerji yang lamban pada wanita membuat superego wanita lebih lemah/lunak, lebih fleksibel, dibanding superego laki-laki.
Freud mengasumsikan bahwa setiap orang lahir biseksual ( setiap orang memiliki hormon seks pria dan wanita) – mempunyai rasa tertarik kepada jenis kelamin yang sama dan yang berlainan. Secara umum kecenderungan maskulin dominan  kepada anak laki-laki, dan kecenderungan feminim pada wanita, sehingga umumnya orang mengidentifikasi diri dengan jenis seks yang sama dengan dirinya dan memilih seks lain sebagai partner. Impuls homoseksual biasanya tetap laten, terekspresikan dalam identifikasi parsial (keberpihakan) terhadap orang tua lawan jenis, misalnya pria yang sudah kawin mengidentifikasi ibunya dalam pilihan karir (sebagai artis).
Fase Laten (latency) (usia 5/6;0 -12/13;0)
            Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami periode peredaan impuls seksual, disebut periode laten. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi fase laten lebih sebagai fenomena biologis, alih-alih bagian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasan libido dengan kepuasan non seksual, khususnya bidang intelektual. Atletik, keterampilan, dan hubungan teman sebaya. Fase laten juga ditandai dengan percepatan pembentukan superego ; orang tua bekerja sama dengan anakberusaha merepres impuls seks agar enerji dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan superego. Anak menjadi lebih mudah mempelajari sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas).


Odipus kompleks laki-laki dan perempuan
Laki-laki
Perempuan
Identifikasi/mencintai ibu
Identifikasi/mencintai ibu
Benci ayah yang menjadi saingan
Penis envy
Cemas dikebiri
Benci ibu – cinta kepada ayah
Identifikasi kepada ayah
Identifikasi kepada ibu
Odipus complex berhenti seketika
Odipus complex berhenti berangsur
Superego berkembang kuat
Superego berkembang lemah
Fase Genital (usia 12/13;0 – dewasa)
            Fase dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem endokrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll), dan pertumbuhan tanda seksual primer. Impuls pregenital bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk mencapai perkembangan kepribadian yang stabil. Dan fase falis, kateksis genital mempunyai sifat narkistik; individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain diinginkan hanya karena memberikan bentuk – bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek diluar, seperti; berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan keluarga. Terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang berorientasi sosial, realistik, dan altruistik.
            Fase genital berlanjut sampai orang tutup usia, dimana puncak perkembangan seksual dicapai ketika orang dewasa mengalami kemasakan kepribadian. Ini ditandai dengan kemasakan tanggung jawab seksual sekaligus tanggung jawab hubungan sosial, mengalami kepuasan melalui hubungan cinta heteroseksual tanpa diikuti dengan perasaan berdosa atau perasaan bersalah. Pemuasan impuls libido melalui hubungan seksual memungkinkan kontrol fisiologis terhadap impuls genital itu; sehingga akan membebaskan begitu banyak enerji psikis yang semula dipakai untuk mengontrol libido, merepres perasaan berdosa, dan dipakai dalam konflik antara id-ego-superego dalam menangani libido itu. Enerji itulah yang kemudian dipakai untuk aktif menangani masalah-masalah kehidupan dewasa, belajar bekerja, menunda kepuasan, menjadi lebih bertanggung jawab. Penyaluran kebutuhan insting ke obyek diluar yang altruistik itu telah menjadi cukup stabil, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan melakukan pemindahan-pemindahan, sublimasi-sublimasi, dan identifikasi-identifikasi. Berikut beberapa gambaran tingkah laku dewasa yang masak, ditinjau dari dinamika kepribadian Freud:
1.      Menunda kepuasan: dilakukan karena obyek pemuas yang belum tersedia , tetapi lebih sebagai upaya memperoleh tingkat kepuasan yang lebih besar pada masa yang akan datang.
2.      Tanggung jawab:kontrol tingkah laku dilakukan oleh superego berlangsung efektif, tidak lagi harus mendapat bantuan kontrol dari lingkungan.
3.      Pemindahan/sublimasi: mengganti kepuasan seksual menjadi kepuasan dalam bidang seni, budaya, dan keindahan.
4.      Identifikasi: memiliki tujuan-tujuan kelompok, terlibat dalam organisasi sosial, politik, dan kehidupan sosial yang harmonis.
Aplikasi
            Ranah applikasi psikoanalisis cukup bervariasi, yang terpenting diantaranya aplikasi di bidang psikopatologi, psikoterapi, psikosomatis, dan pengasuhan anak. Namun pada dasarnya psikoanalisis dapat memberi sumbangan dalam berbagai bidang kemanusiaan, seperti masalah persekolahan, narapidana, kemiliteran, advertensi, sosial-antropologi, kreativitas, seni, dsb.

Psikopatologi
            Perkembangan kpribadian dipandang sebagai sesuatu yang kumulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang pengaruhnya terasa sampai dewasa. Orang dewasa yang fondasi kepribadiannya lemah bisa menjadi mengalami psikopatologi. Berikut dinamika jiwa menurut psikoanalisis pada beberapa jenis psikopatologi:
1.      Histeria, disebut juga conversion disorder: kelumpuhan tanpa sebab-sebab fisik, menurut psikoanalisis ini akibat adanya transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik. Remaja yang menjadi tuli karena keluarga – terutama ayahnya – sangat keras dalam mengkritik/memarahi dirinya tanpa alas an yang jelas.
2.      Fobia : ketakutan yang sangat dan tidak pada tempatnya, oleh Freud dianalisis sebagai dampak dari kecemasan yang yang dialihkan, bisa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual atau kecemasan akibat peristiwa traumatik. Wanita yang fobia naik kapal, karena pernah mengalami perkosaan di sebuah kapal.
3.      Obsesi-kompulsi, mempunyai tema yang sangat bervariasi. Tema kebersihan, penyakit, kekejaman, dilatar belakangi oleh konflik seksual pada fase anal. Karena kencing sembarangan seorang ayah menakut-nakuti anaknya dengan pisau yang kebetulan sedang dibawanya. Sesudah dewasa dia menjadi ayah terobsesi membunuh anak yang dicintainya. Dia sembunyikan semua senjata tajam di tempat tertentu, dan terus menerus dicek-nya (kompulsi) apakah pisau itu masih berada di sana.
4.      Depresi: perasaan tidak mampu, tidak kompeten, kehilangan harga diri, dan merasa bertanggung jawab terhadap semua kejadian buruk (pada dirinya dan lingkungannya). Menurut Freud, akar masalahnya adalah kehilangan cinta pada Oedipus complex, yang membuat orang marah kepada diri sendiri, karena dia kehilangan cinta dari orang tua, dari teman, bahkan dari negaranya.
5.      Ketagihan Obat/Alkohol: Interpretasi psikoanalisis terhadap ketagihan obat/alcohol bervariasi. Freud menganggap adiksi dilatarbelakangi oleh insting mati. Pakar psikoanalisis lain mengatakan adiksi menjadi salah satu cara mengalahkan kontrol superego. Orang menjadi bebas memperoleh apa yang diinginkannya ( walaupun hanya sebentar). Ada juga yang menganalisis botol minuman sebagai represantasi dari buah dada ibu pada fase oral.
Aplikasi psikoanalisis yang terpenting adalah psikoterapi. Ini bisa dipahami karena pada dasarnya Freud mengembangkan teori psikoanalisisnya dari praktek psikoterapi yang dilakukannya. Psikoterapi tradisional sangat memakan waktu. Biasanya pertemuan terapeutik dilakukan 4 atau 5 kali seminggu ( 1 sampai 2 jam setiap pertemuan ), selama 2 sampai 3 tahun.
Tujuan
Bukan semata-mata menghilangkan sindrom yang tidak dikehendaki, tetapi terutama bertujuan memperkuat ego sehingga mampu mengontrol impuls insting , dan memperbesar kapasitas individu untuk mencintai dan berkarya. Klien belajar bagaimana mensublimasi impuls agresi dan impuls seksual , belajar bagaimana mengarahkan keinginan dan bukan malahan diarahkan oleh keinginan.
Teknik yang Dipakai
Terutama asosiasi bebas ( free association ), analisis mimpi ( dream analysis ), Freudian slips (parapraxes), interpretasi ( interpretation ), analisis resisten (resistence), tranferensi (transference) dan pengulangan (working through).
1.      Asosiasi bebas
Klien selama sesi terapi mengatakan apa saya yang terlintas dalam pikirannya, tidak peduli hal itu remeh, memalukan, tidak logis, dan atau kabur. Ada tiga asumsi yang menjadi dasar free association:
a.       Apa saja yang dikatakan dan dilakukan seseorang sekarang, mempunyai makna dan berhubungan dengan perkataan dan perbuatanya di masa lalu,
b.      Materi tak sadar berpengaruh penting terhadap tingkah laku, dan
c.       Materi tak sadar dapat dibawa ke kesadaran denga mendorong ekspresi bebas setiap kali mereka muncul kedalam pikiran.
Asumsi ini menganggap dengan teknik asosiasi bebas, terjadi asosiasi antara even nyata dengan gambaran mental( ingatan dan mimpi ) yang dapat mengungkap materi yang direpres. Jadi asosiasi bebas tidak benar-benar bebas, tetapi secara khusus membuat hubungan-hubungan, dan alurnya ditentukan oleh proses tak sadar yang aktif saat itu. Menurut Freud, walaupun pasien menghalangi topik tertentu dan berusaha menyembunyikannya, suatu ketika terbentuk rantai asosiasi yang membuat terapis dapat memahami konflik mental dan emosional pasien itu.
2.      Analisis mimpi
Ketika tidur, kontrol kesadaran menurun, dan mimpi adalah ungkapan isi-isi tak sadar karena turunnya control kesadaran itu. Klien melaporkan apa yang dimimpikannya dalam asosiasi bebas, menjadi bahan yang kaya untuk dianalisis terapis.
3.      Freudian slip
Meliputi : salah ucap, salah membaca, salah dengar, salah meletakkan obyek, dan tiba-tiba lupa. Semuanya itu menurut Freud bukan kejadian kebetulan, tetapi kejadian yang dipengaruhi oleh insting ketidaksadaran. Analisis akan dapat mengungkap gambaran mental yang ada dibalik slip itu.
4.      Interpretasi
Mengenalkan kepada klien makna yang tidak disadarinya dari pikiran, perasaan dan keinginannya.
5.      Analisis resistensi
Resistensi adalah mekanisme pertahanan klien, dan analisis akan mengungkap unsur yang penting dari masalah yang ingin disembunyikan klien.

6.      Transference
Pengungkapkan isi-isi ketidaksadaran yang tersimpan sejak anak-anak, dengan memakai terapis sebagai medianya.

7.      Working through
Terus menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulangi resistensi dan transferensi, pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan.
Psikosomatis
            Pada histeria, gangguan fisiknya adalah kelumpuhan, sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan tingkah laku. Psikosomatis adalah patologi organik yang diawali atau kemudian gejalanya diperberat oleh stimulasi lingkungan nonpatologik. Gangguann alergi, eksim, asma, diare yang psikosomatis, ketika diobati memakai mediko-kimia dapat sembuh, namun tidak sempurna atau mudah kambuh dengan sebab yang tidak berkaitan dengan penyakit itu. Psikoanalisis mengungkap akar masalah psikis yang melatarbelakangi penyakit itu, dan membantu pengobatan dengan psikoterapi agar kesembuhan menjadi permanen.
Pengasuhan anak
Perhatian terhadap pertumbuhan anak sampai usia balita , secara langsung atau tidak langsung merupakan sumbangan penting dari psikoanalisis. Konsep seksual infantil dan odipus kompleks memang banyak mendapat kritikan. Namun bahwa perkembangan masa kecil merupakan fondasi kepribadian, umumnya diterima, dengan berbagai variasi. Paling tidak, psikoanalisis mendorong orang tua untuk menghindari kemungkinan terjadi frustasi pada bayinya. Jangan ada frustrasi, jangan ada konflik, agar terhindar dari patologi psikis. Lakukan toilet training secara lembut, lakukan penanaman moral secara bijak, lakukan pengenalan peran seksual pada saat yang tepat, agar kepribadian anak berkembang sempurna.
Evaluasi 
            Teori psikoanalisis Freud menjadi paradigma psikologi kepribadian, dan terapan psikoanalisis dalam terapi jiwa menjadi primadona sampai sekarang. Pemikiran Freud sangat menantang, konsepnya tentang individu luas dan mendalam. Pengamatannya teliti, disiplin dan berani dalam mengembangkan pikiran. Teorinya mencoba memotret manusia, baik fisik maupun psikisnya. Sumbangan utama Freud adalah menyadarkan bahwa proses tak sadar mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tingkah laku. Memang kengototan Freud mempertahankan insting seksual sebagai isi utama ketidaksadaran banyak mendapat sanggahan, tetapi semua setuju bahwa proses taksadar itu ada, dan para pakar akan mengembangkan konsepnya sendiri-sendiri apa saja isi taksadar itu.
            Aplikasi teori Freud dibidang psikopatologi, psikoterapi dan pengasuhan anak, sampai sekarang masih tetap dirasakan pengaruhnya. Banyak konsep-konsep Freud yang kontroversial. Odipus kompleks misalnya, banyak ditentang karena tidak mungkin dibuktikan memakai kaidah eksperimen ilmiah, tetapi konsep itu terbukti dapat membantu mengobati gangguan neurotik banyak penderita. Namun dengan segala kekurangannya konsep-konsep Freud sudah membuka wacana, mengusik perhatian dan mendorong pakar-pakar psikologi berusaha menemukan teori alternatif yang lebih baik.
            Kritik terhadap teori Freud sangat banyak, tidak ada teori yang menerima kritik sebanyak Freud, kecuali mungkin kritik terhadap teori evolusi dari Darwin. Kritik yang paling serius adalah teori Freud tidak dikembangkan memakai metode ilmiah. Freud tidak menyusun laporan risetnya secara sistematik sehingga sangat sulit menilai kerjanya. Tanpa definisi operasional, tanpa eksperimen dengan kelompok kontrol, tanpa pengukuran kuantitatif, dan tanpa bukti saling berhubungan antar gejala, nilai prediktif dari teori Freud meragukan. Pendek kata, dari sisi metodologi teori Freud tidak ilmiah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar